Membidik Asia Tenggara dari Myanmar

Peluang pasar yang sangat terbuka tersebut menarik minat PT So Good Food, anak usaha Grup JAPFA, untuk mengisinya dengan susu dalam kemasan. Ekspor perdana susu kemasan berlabel Real Good itu diluncurkan Wakil Bupati Boyolali M. Said Hidayat dari halaman samping pabrik yang berlokasi di Desa Sudimoro, Kec. Teras, Boyolali, Jawa Tengah, 27 April silam.

“Saya sangat bangga terkait langkah PT So Good Food dengan melakukan ekspor susu ke Myanmar. Dan yang lebih membanggakan lagi adalah 70% tenaga kerjanya merupakan warga di sekitar pabrik, meski saat kemajuan teknologi telah mendukung proses produksi” ujar Said dalam sambutannya.

Menjangkau Asia Tenggara

Menurut Roy Heru Wibowo, Head of Manufacturing PT So Good Food (SGF), dipilihnya Myanmar sebagai negara pertama tujuan ekspor susu dalam kemasan karena selama ini di negara tersebut hanya tersedia susu murni. Dan ini pun baru memenuhi kebutuhan 50%.

Pada pengiriman pertama, menurut Roy, SGF memberangkatkan 5.000 karton senilai US$15 ribu. Ekspor ke Myanmar diharapkannya menjadi pintu pembuka bagi pasar negara lain, terutama Asia Tenggara. “Cita-cita kami tidak muluk-muluk. Ke depan kami menargetkan negara lain di Asia Tenggara, seperti Vietnam, Kamboja, dan Laos menjadi tujuan ekspor berikutnya sehingga jangkauan pasar akan semakin luas dan meningkat,” harap Roy.

Volume ekspor susu perdana sebanyak 5.000 karton boleh dibilang kecil mengingat pabrik SGF tersebut mampu berproduksi rata-rata 1,2 juta karton per bulan. Apalagi ke depan Roy membidik target produksi 2 juta karton per bulan.

Susu kemasan yang diekspor tersebut, lanjut Roy, mempunyai masa simpan enam bulan. Sedangkan susu murni produksi domestik Myanmar hanya bisa tahan tiga hari. Tak pelak ekspor SGF memberi keuntungan tersendiri bagi negara beribukota Naypydaw ini dalam menjawab kebutuhan susu nasionalnya.

“Ada tiga jenis atau bentuk kemasan susu yang diekspor ke Myanmar, yaitu susu kemasan berbentuk bantal, prisma, dan ekolean. Kemasan susu yang dipacking dalam bentuk ekolean memiliki kelebihan tersendiri karena bisa dimasukkan ke dalam air dingin. Sehingga kemasan ini cocok untuk para penjual yang berjualan di pinggir jalan,” ulas alumnus Mechanical Engineering ITS ini.

Susu tersebut diproses dengan Ultra High Temperature (UHT ) dalam bentuk kemasan tetrapak yang higienis serta modern sehingga bisa bertahan hingga enam bulan. “Bahan baku produk susu PT So Good Food di Boyolali ini berupa susu segar yang dipenuhi oleh peternak lokal. Mereka dapat menyetor rata-rata 30-40 ton per hari atau sekitar 70%-80% dari total kebutuhan” papar bapak yang bergabung dalam Grup JAPFA sejak 1994 tersebut.

Berdaya Saing

Pimpinan Plant UHT Achmad Maulidin Fanani menambahkan, ekspor perdana susu Real Good menjadi kebanggaan masyarakat Boyolali dan akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan peternak khususnya. Karena itu ia pun berharap peternak dapat meningkatkan kualitas susunya.

Sementara itu I Ketut Diarmita, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH), Kementan, menilai, ekspor susu So Good Food ke Myanmar merupakan pilihan yang tepat. Pasalnya, konsumsi per kapita susu di Myanmar yang sebanyak 26,7 kg/tahun baru terpenuhi 50% sehingga negara ini diperkirakan masih mengimpor 600 ribu ton.

“Ekspor perdana produk susu Real Good PT So Good Food ini membuat saya bangga dan saya sangat mengapresiasi. Ekspor ini membuktikan bahwa Indonesia telah diakui dari segi keamanan serta kualitas susunya di perdagangan internasional,” ungkap Dirjen melalui sambutan tertulisnya yang dibacakan Maria Nunik Sumartini, Kasubdit Investasi dan Pengembangan Usaha, saat acara peluncuran ekspor perdana tersebut. Diarmita pun berharap setelah ekspor Myanmar, So Good Food dapat memperluas jangkauan pasar ke negara Asia lain dan selanjutnya merambah pasar dunia.

Nunik meyakini, adanya ekspor susu itu akan menambah devisa bagi negara dan meningkatkan kesejahteraan bagi peternak. Sehingga ekspor ini dapat merangsang dan semakin menggairahkan peternak lokal.

Kebanggaan senada juga disampaikan Ketua Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika (LPPOM) MUI Lukmanul Hakim. “Di tengah persaingan produsen susu dunia, yang selama ini dikuasai Australia, Selandia Baru dan Belgia, susu dari Boyolali juga bisa diterima di negara lain. Ini sangat membanggakan. Langkah PT So Good Food sangat tepat dengan melawan arus ini “ komentar dosen Universitas Juanda, Bogor ini.

Lukman juga menjelaskan, pemerintah kini memiliki program yang dinamakan arus baru ekonomi Indonesia, yakni melawan impor dengan memperbanyak eksportasi. Dengan label halal yang dicantumkan dalam setiap makanan dari Indonesia, maka produk Indonesia akan mampu bersaing di pasar dunia. Tidak hanya di negara yang berpenduduk muslim tapi juga di negara bermayoritas nonmuslim.

“Semenjak ditemukan pencemaran sosis dari daging kuda di Denmark, saat ini halal menjadi kebutuhan. Bahkan halal berada di level satu tingkat di atas standar kualitas. Saya senang dengan PT So Good Food yang berkomitmen menjaga kehalalan produknya,”pungkas Lukman.

Yang juga menyaksikan secara langsung proses peluncuran ekspor perdana susu Real Good adalah Ketua KUD Jatinom Joko Siswanto selaku pemasuk bahan baku susu. Ia pun merasa bangga produk susu anggota KUDnya diekspor. Apalagi pasokan susu dari KUD Jatinom dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan. Harga pembelian pun dinilainya tidak terlalu kecil, yakni Rp4.800/liter.

Saat ini KUD Jatinom beranggotakan 6.204 orang. Dari anggota sebanyak itu, 700 orang di antaranya peternak sapi perah yang saat ini mampu menyetorkan susu sebanyak 15.000-15.500 liter per hari.

This entry was posted in Situs Togel Terpercaya. Bookmark the permalink.