Alsintan Terus Digencarkan

Merujuk Grand Design Indonesia menjadi Lumbung Pangan Dunia 2045, pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Ke mentan) menargetkan swasembada komoditas pertanian meliputi padi, bawang merah, cabai, ja gung, gula, kedelai, daging sapi, dan bawang pu tih. Sebagai langkah awal, swasembada jagung dan ekspor beras ditargetkan berlangsung tahun ini. Menurut Astu Unadi, setidaknya perlu 65 ribu unit combine harvester(mesin panen) dan hampir 450 ribu unit traktor roda dua pada 2045 guna men dukung visi tersebut. Namun, ulas Kepala Ba lai Besar Pengembangan Mekanisasi Per tanian (BBP Mektan), Kementan periode 2010 – Oktober 2016 itu, penggunaan alsintan (alat dan mesin pertanian) di Indonesia masih sangat minim. Bahkan, kalah jauh dibandingkan negaranegara ASEAN.

Alsintan di Indonesia

Astu memaparkan, tenaga kerja di sektor pertanian semakin berkurang karena manusia tidak lagi bekerja menggunakan otot tapi lebih mengandalkan otak. “Generasi muda sekarang berpikir kerjanya dengan HP (hand phone) dan internet bisa dapat uang, kenapa harus panas-panasan di sawah?” katanya melihat fenomena generasi digital. Oleh ka rena itu, tren pertumbuhan tenaga kerja di bidang pertanian akan turun tajam. Peran meka nisasi pertanian pun semakin dibutuhkan. Pada Seminar Nasional AGRINA Agribusiness Outlook 2017, Kamis (15/12), Doktor bidang Teknik Sipil dan Lingkungan, Universitas Melbourne, Australia itu menjelaskan, sekitar 26% penduduk In do nesia kini bekerja di sektor pertanian. Persentase ini lebih besar daripada Amerika Serikat yang berkisar kurang dari 2%, Australia di bawah 4%, dan Thailand kurang dari 15%. “Mereka lebih se nang kerja tidak capek tapi dapat uang lebih banyak. Saya kira juga pebisnis pertanian kerjanya di meja, bukan di sawah. Betul ‘kan Bapak dan Ibu se kalian?” Astu berinteraksi dengan peserta seminar.

Sementara, penerapan alsintan juga masih sedikit. Baru sekitar 216 ribu unit traktor roda dua yang digunakan di Indonesia sedangkan di Bangladesh mencapai lebih dari 500 ribu unit. “Penggunaan power(daya) untuk pertanian di Indonesia masih sangat kecil dibanding negara lain. Amerika sudah menggunakan 17 HP (hor se power)/ha, Jepang 16 HP/ha, Thailand 2,5 HP/ha, bahkan Vietnam 1,5 HP/ha. Indonesia hanya 0,5 HP/ha,” katanya. Kementan menyadari, penggunaan alsintan yang rendah menyebabkan tingginya harga produk pertanian lokal. Karena itu, sela Astu, impor bukan masalah surplus atau tidaknya pro duksi. Tetapi, penjual akan men cari harga yang lebih murah sehingga memungkinkan terjadinya penyelundupan produk pertanian. Kementan pun memacu pemberian bantuan alsintan pada 2014 sebanyak 6.000 unit. Target bantuan alsintan 2015 mencapai 60 ribu unit dan terealisasi sekitar 55 ribu unit. Di antaranya be rupa traktor roda dua sebanyak 26.100 unit, pompa 8.178 unit, traktor roda empat 1.000 unit, penanam padi 5.000 unit, dan Unit Pengolahan Pupuk Organik (UPPO) 697 unit. Tahun lalu bantuan alsintan diharapkan menembus 80 ribu unit. Saat ini terdapat 36 industri alsintan di Indonesia dengan menghasilkan produk berupa traktor roda dua dan traktor roda empat berserta alat tambahan, combine harvester, pemipil jagung, perontok padi, pompa air sentrifugal, penyemprot, dan unit penggilingan padi. Sedangkan, kapasitas produksinya men

This entry was posted in Situs Togel Terpercaya. Bookmark the permalink.